Daftar Blog Saya

Minggu, 14 November 2010

Resensi Ave maria

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma

Resensi buku : Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma

1. Judul buku                : Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
2. Pengarang                : Idrus
3. Penerbit                    : Balai Pustaka
4. Tahun terbit : 2005 cetakan kedua puluh tiga

            Idrus lahir pada tahun 1921 di Padang. Sastrawan yang berasal dari Minangkabau ini berpendidikan sekolah mengengah. Ia mulai menulis lukisan-lukisan, cerpen dan drama sesudah jepang mendarat pada tahun 1942. Ia termasuk salah satu pelopor angkatan tahun 1945. Ia juga telah membawakan perubahan baru dalam prosa indonesia modern. Dengan tegas ia menyatakan putusnya hubungan antara prosa sebelum perang dengan sesudah perang. Perbedaan prosa Idrus dengan prosa pada masa pra pujangga baru adalah bahwa prosa Idrus bersifat universal dan cenderung ke lukisan tentang kehidupan sehari - hari yang telah bertumpu pada kesengsaran dan kenyataan. Karya-karya Idrus yang lain adalah:
1. AKI
2. Perempuan dan Kebangsaan
3. Jibaku Aceh
4. Dokter Bisma
5. Keluarga Suroso
            Memuat kisah-kisah zaman Revolusi, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dibagi menjadi tiga bagian: Zaman Jepang, Corat-Coret dibawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945. Judul Ave Maria dianggap kebarat-baratan, bahkan dikatakan mengandung anasir propoganda untuk melawan Jepang. Kendati demikian, Idrus dengan sembunyi-sembunyi tetap menulis, dan hasil catatan yang ia buat dengan rahasia dirangkum dalam bagian Corat-Coret di Bawah Tanah. Yang menarik adalah ia menulis karya-karya yang tajam ini, saat ia bekerja di Perserikatan Oesawa Sandiwara Djawa, yang berada di bawah propoganda Sendenbu, setelah ia pindah dari Balai Pustaka karena tak puas karena gajinya kecil.
           
Dalam cerita Pasar Malam Jaman Jepang kita dapat membaca sedikit tentang Sendenbu. Semua orang telah mengerti arti Sendenbu. Sendenbu barisan propoganda. tapi mereka belum mengerti, mengapa Selalu harus ikut campur tangan. Sandiwara dengan bantuan Sendenbu, Perkumulan musik dengan bantuan Sendenbu, pertandingan bola dengan bantuan Sendenbu. Tapi mereka bergirang hati juga, sebab apa-apa yang dicampuri Sendenbu selalu menarik.
            "Corat-Coret" Idrus memberikan kita gambaran gamblang mengenai kehidupan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi saat itu. Menggelitik, acuh kerap mencemooh, terkadang humoris, selalu tajam, Idrus menangkap apa yang disebut Jassin sebagai " sikap jiwa masa bodoh terhadap peristiwa-peristiwa yang dianggap besar pada masa itu.
            Dalam Fujinkai, kita melihat kehebohan Nyonya Sastra mempersiapkan rapat Fujinkai di kampung A, "repot betul, seperti hendak menganwinkan anaknya. Pinjam meminjam kursi, panggil memanggil anggota." Dengan tajam kita membaca timpalan ejekan dan sinisme dari peserta rapat, kekonyolan kehebohan sok resmi tanpa juntrungan yang jelas, sampai kemarahan para peserta yang kemudian diminta sumbangan seringgit demi membuat "kuwe-kuwe" untuk prajurit Nippon yang sakit. " Nyonya Sastra membacanya hingga dia keringatan. Mengingat hingga sekarangpun, situasi "rapat" birokrat sepertinya juga tidak benyak berubah.
            Sikap mencemooh terus tertuang bahkan hingga Jepang angkat kaki, dalam bagian terakhir, sesudah 1945. Disini kita dapati Novel Idrus yang sangat terkenal, mengusung peristiwa besar" Hari Pahlawan" di kota kita, bahkan menggunakannya sebagai judulnya, Surabaya. Seolah tak peduli dengan gegap gembita revolusi, Idrus membabat habis gambaran Heroisme 10 november. Para pemuda diibaratkannya sebagai cowboy dan bandit. Mereka berjalan dengan dada membusung, revolver dan belati di pinggang: revolver-revolver guna menembak pencuri-pencuri sapi dan pisau-pisau belati...guna perhiasan." Tapi pencurian sapi tidak pernah tarjadi, dan bunyi letupan-letupan revolver, ternyata ditembakkan ke atas, " ke tempat Tuhan lama."
            Kekacaun kondisi kaum pelarian dengan segala kesengsaraan dan kekonyolan, digambarkan dengan sinis dan tajam, terkadang kasar dan jenaka. Kedatangan wartawan mesum dari Jakarta dengan dada dan pantat tipis, teriakan trauma seorang ibu yang menjadi pemandangan sehari-hari dan  ditinggal orang tidur, pemeriksaan badan yang semena-mena distasiun, hingga pelarian-pelarian perempuan yang "banyak mendapat makanan dan cinta pengawal-pengawal," dengan segala tukang catut dan "Penyakit Raja Singa"
            Novel Surabaya pertama kali diterbitkan oleh Merdeka Press di tahun 1947, dan menimbulkan banyak kontroversi. Idrus dicap sebagai kontrarevolusi karena penggambaran karikaturnya mengenai pertempuran Surabaya. Tapi kisah bandit menjelma menjadi pejuang (dadakan) dan beraksi bak cowboy di berbagai kota di Jawa, tercatat dalam sejarah hingga beberapa tahun setelah Surabaya terbit. " dikala mana sedang revolusi sedang berkoar dengan hebatnya dengan semboyan-semboyan yang berapi-api, pengarang telah melihat dan mengkritik berbagai kekurangan yang dilihatnya,"Tulis Jassin dalam pendahuluan buku ini. Tak jarang ia didamprat karena tulisan-tulisannya dianggap menghina revolusi. Idrus, dengan gaya prosanya yang tajam dan lugas, memberi kita banyak kritik dan laporan sejarah, untuk tidak tenggelam dalam sekedar simbol dan semboyan mendayu-dayu.
            Idrus sangat pantas disamakan dengan novelis terkenal dari Malaysia, yaitu Karim Raslan, Karim seorang Columnis, ia membeberkan semua kejahatan di negeri Malaysia, karena mereka mempunyai kesamaan dari segi pengarangan dengan gayanya yang sarkatisme, lugas, dan kasar.
            Buku Ave Maria sangat baik dibaca oleh para pemuda karena penuh dengan sikap semangat perjuangan dan sikap antipati terhadap penjajahan yang dilakukan Jepang, penuh dengan nuansa romantis di awal-awal cerita, dan dengan gaya sarkatismenya yang sangat tajam dalam menuliskan cerita-ceritanya, yang dipastikan anda akan terkagum-kagum dengan karangannya yang sangat hebat dan menarik.

Resensi By: R. Afriansyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar